CARI ARTIKEL

Link

fb tw yt fr

Pilih Bahasa :

>>

Tugu Monumen Nasional (Monas) Di Kota Jakarta

Monumen nasional atau tugu Monas merupakan icon Kota Jakarta yang letaknya tepat di pusat Kota Jakarta.  Monas mulai dibangun pada bulan Agustus 1959 dan diresmikan dua tahun kemudian yaitu tanggal 17 Agustus 1961.

Tugu Peringatan Nasional ini dibangun di areal seluas 80 hektar. Tugu ini diarsiteki oleh Soedarsono,  Frederich Silaban, dan konsultan Ir. Rooseno. Monumen nasional atau yang lebih dikenal dengan sebutan Monas  diresmikan oleh Presiden RI Soekarno. Sebenarnya ide pembangunan monumen ini sudah tertanam di benak Soekarno sejak tahun 1950an. Saat itu, pusat pemerintahan baru dikembalikan  ke Jakarta dari Jogjakarta, menyusul pengakuan Belanda atas kemerdekaan Indonesia. Di Jakarta, Soekarno mulai memikirkan konstruksi sebuah monumen nasional yang mampu disejajarkan dengan Menara Eiffel di Paris Perancis.

alt

Untuk merealisasikan ide itu, pada 17 agustus 1954, Komite Monumen Nasional dibentuk. Kompetisi desain pun diadakan pada tahun 1955. Monas resmi dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975. Pembangunan tugu Monas bertujuan untuk mengenang dan melestarikan perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan 1945, agar terbangkitnya inspirasi dan semangat patriotisme generasi saat ini dan mendatang.

Desain arsitektur Monas memegang prinsip desain bangunan yang stabil atau mempunyai keseimbangan simetri, berskala normal, proporsi yang seimbang dan perpaduan yang unik serta memiliki vocal point/aksen pada salah bagian tugunya. Tugu Monas dibuat menjulang tinggi dan melambangkan lingga (alu penumbuk beras) yang penuh dimensi khas budaya bangsa Indonesia yang merupakan alat rumah tangga yang terdapat hampir di setiap rumah penduduk pribumi Indonesia serta Yoni (lumbung). Keduanya adalah alat rumah tangga tradisional Indonesia. Selain itu, lingga dan yoni melambangkan simbol keabadian.

Monas dahulu dikenal dengan nama Lapangan Gambir. Kemudian sempat berubah nama beberapa kali menjadi Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas dan kemudian menjadi Taman Monas. Monumen ini memiliki ketinggian 132 meter dan seluruh bangunan dilapisi marmer. Di bagian puncak terdapat cawan yang di atasnya terdapat lidah api dari perunggu yang tingginya 17 meter dan diameter 6 meter dengan berat 14,5 ton. Lidah api ini dilapisi emas seberat 45 kg. Lidah api Monas terdiri atas 77 bagian yang disatukan.

Sedangkan pelataran puncaknya memiliki luas 11x11 meter. Untuk mencapai pelataran puncak, pengunjung bisa menggunakan lift dengan lama perjalanan sekitar 3 menit. Di sekeliling lift terdapat tangga darurat. Dari pelataran puncak Monas, pengunjung bisa melihat gedung-gedung pencakar langit di kota Jakarta. Bahkan jika udara cerah, pengunjung dapat melihat Gunung Salak di Jawa Barat maupun Laut Jawa dengan Kepulauan Seribu. Untuk pelataran bawah luasnya 45x45 meter. Tinggi dari dasar Monas ke pelataran bawah yaitu 17 meter. Di bagian ini pengunjung dapat melihat Taman Monas yang merupakan hutan kota yang indah.

Di bagian bawah Monas terdapat sebuah ruangan yang luas yaitu Museum Nasional. Tingginya yaitu 8 meter. Museum ini menampilkan sejarah perjuangan Bangsa Indonesia. Luas dari museum ini adalah 80x80 meter. Pada keempat sisi museum terdapat 12 diorama (jendela peragaan) yang menampilkan sejarah Indonesia dari jaman kerajaan-kerajaan nenek moyang Bangsa Indonesia hingga G30S PKI.

Saat ini Monas lebih difungsikan sebagai tempat wisata dan pusat pendidikan yang menarik bagi warga Jakarta dan sekitarnya.

Add comment


Security code
Refresh