CARI ARTIKEL

Link

fb tw yt fr

Pilih Bahasa :

>>

Gereja Santa Maria De Fatima Unik Berdesain Oriental

Gereja Santa Maria De Fatima konon adalah rumah seorang bangsawan Tiong. Sekitar tahun 1850-an sampai tahun 1950 dibeli oleh seorang pastur untuk dijadikan gereja Katolik. Gereja ini terletak di Jl. Kemenangan III, Jakarta Barat.

Gereja Santa Maria De Fatima memiliki nuansa oriental karena mempertahankan gaya khas Fukien atau Tiongkok Selatan. Karena itulah, pada 1972 gereja ini dilindungi undang-undang sebagai Cagar Budaya. Sepintas bentuk arsitekturnya seperti kelenteng yakni tempat sembahyang warga Konghucu. Dan seperti kebanyakan rumah tradisional masyarakat Tionghoa, tata letak bangunannya simetris.

alt

Ruangan utama sebagai pusat terletak di tengah sementara ruang-ruangan lainnya ditempatkan di sebelah depan-belakang serta kanan-kiri. Ruangan tengah dulunya ruang terbuka dan biasanya dipakai untuk berkumpul serta tempat sembahyang bersama bahkan ada yang dimanfaatkan untuk latihan kungfu. Namun setelah dibeli oleh gereja, ruangan ini dirubah dan dibangun menjadi ruangan kebaktian. Bangunan yang sangat kental dengan budaya Tionghoa ini diperkirakan usianya sudah 200 tahun. Sedangkan saat beralih menjadi bangunan gereja mulai tahun 1955.

Selain tata letak ruangan, hal yang paling mencolok bahwa bangunan ini sangat kental dengan budaya Tionghoa yakni tampilan visualnya. Mulai dari bentuk atap dengan kedua ujung wuwungannya mencuat ke atas dan diberi pelisir atap dengan tiga kombinasi warna yakni kuning, merah, dan hijau. Pada bagian pelisir atap juga diberi hiasan berupa bunga dan buah-buahan serta tulisan dalam bahasa Cina. Hiasan bunga dan buah-buahan bermakna kedamaian dan kesejahteraan. Pada bagian atap paling atas, tepat di tengah terdapat salib.

Salib tersebutlah yang memberikan identitas bahwa bangunan ini bukan tempat tinggal bangsawan Tionghoa lagi maupun bukan kelenteng, namun sebuah gedung gereja. Ciri khas arsitektur Tionghoa lainnya adalah adanya kolom dan balok yang berbahan kayu. Penyelesaian konstruksi kolom dan balok dengan dibuat ornamen (hiasan). Ornamen berupa kepala naga, bunga teratai (lotus), dan awan. Ornamen diberi warna emas, sedangkan kolom dan balok berwarna merah serta sebagian lagi berwarna hijau. Warna merah juga dipakai untuk pintu dan rangka jendela sementara hiasan teralis berwarna emas.

Walaupun sangat kental dengan budaya Tionghoa, secara fungsional bangunan ini adalah gedung gereja. Hal ini bisa dilihat pada penataan interior ruangan utama yakni ruang yang dipakai kebaktian. Deretan bangku jemaat yang terbuat dari kayu dengan finishing natural, area paduan suara, altar, dimana di atasnya terdapat ukiran kayu yang menggambarkan peristiwa penyaliban Tuhan Yesus di antara dua penyamun yang juga ikut disalib.

Add comment


Security code
Refresh