CARI ARTIKEL

Link

fb tw yt fr

Pilih Bahasa :

>>

Arsitektur Gedung Bank Indonesia Yogyakarta

Bank Indonesia, eks kantor De Javasche Bank ini, mulai dibuka untuk umum sejak 16 Juli 2009 lalu.  Dibukanya akses bagi masyarakat umum tersebut merupakan awal dari langkah BI untuk memfungsikan kembali gedung tua ini dengan tetap memerhatikan sisi pelestarian bangunan pusaka. 

 

 

Kantor Bank Indonesia atau lebih dikenal Gedung BI menjadi satu dari sepenggal sejarah jaman kolonial di Yogyakarta. Salah satu, Kawasan 0 kilometer memang menjadi pusatnya bangunan-bangunan bersejarah di Yogya. Di ujung selatan Jalan Malioboro yang berbatasan langsung dengan serambi depan Keraton dulunya berbagai aktivitas berputar. Mulai perniagaan atau perdagangan, pemerintahan hingga aktivitas bisnis dan ruang publik.

Bangunan berarsitektur Eropa ini, sedari awal difungsikan sebagai Kantor Cabang (KC) De Javasche Bank (DJB) ”Djokdjakarta” dibuka pada 1 April 1879 sebagai kantor cabang ke-8 di Indonesia. Bangunan yang hingga kini masih megah dan kokoh tersebut, dirancang oleh Arsitek Belanda Marius J. Hulswit dan Edward Cuypers dengan menampilkan aura kemegahan arsitektural bergaya Eropa.

Hulswit adalah arsitek professional yang pertama di Indonesia. Sebelumnya, desain arsitek dibuat di Belanda dan dikirimkan ke Indonesia untuk dikerjakan oleh arsitek amatir. Hulswit adalah arsitek yang mensupervisi bangunan Algemeene di Surabaya dan membangun Gereja Katedral di Jakarta. Gedung Bank Indonesia Jogja, sedikit banyak diwarnai oleh gaya Algemeene yang kala itu cukup tren sebagai bangunan berukuran menengah atau sedang.

 

 

Secara struktur, gedung BI Jogja, terdiri dari bangunan dengan tiga lantai dengan fungsi yang berbeda di setiap lantainya. Lantai paling bawah difungsikan sebagai ruang penyimpanan bisa dilihat dari ruang khazanah yang berfungsi menyimpan uang. Ruang utama dan kasir terdapat di lantai satu, sedangkan lantai dua dulunya adalah tempat tinggal bagi direksi dan keluarganya.

Setelah lebih dari 100 tahun, bangun dari gedung ini pun tidak banyak berubah. Kalaupun ada perubahan skala nya adalah perubahan-perubahan kecil. Sedangkan di bagian dalam gedung, perubahan juga lebih karena pergeseran fungsi atau peruntukkan menyesuaikan dengan perkembangan jaman dan kebutuhan.

Tak hanya tampilan fisiknya yang anggun dan megah ala bangunan neo-renaissance, konstruksi gedung peninggalan Belanda ini juga sangat kuat. Masyarakat yang kerap melewati kawasan Kilometer nol Yogyakarta pasti akan ikut mengagumi tampilan fisiknya.

 

 

 

Add comment


Security code
Refresh