CARI ARTIKEL

Link

fb tw yt fr

Pilih Bahasa :

>>

Gedung Marabunta Arsitektur Unik Zaman Kolonial Di Semarang

Sebelum menjadi Gedung Marabunta seperti sekarang ini, dahulu gedung ini bernama Gedung Stadschowburg. Dilihat dari ornamen dekorasinya, bangunan ini mulai meninggalkan gaya neoklasik dan mengadopsi arsitektur tropis Hindia Belanda. 

 
 

 

Keunikan bangunan ini adalah pada dua patung semut raksasa yang berdiri di sisi kanan dan kiri atap gedung. Arsitektur bagian depan gedung dengan pagar bernuansa klasik Belanda menambah keindahan bangunan ini. Teras bangunan tampak empat kolom tinggi menjulang khas arsitektur Eropa.

Saat masuk ke dalam gedung pandangan kita benar-benar tertuju pada setiap sudut ornamen di dalamnya yang bernuansa Klasik Eropa. Atap gedung ini menyerupai perahu terbalik yang tersusun dari kayu berwarna coklat. Di bagian dinding gedung juga terdapat jaring-jaring kapal yang meintang. Untuk memperkuat kesan seolah berada di sebuah kapal, pada sisi kanan depan ruang terdapat mini bar berbentuk kapal.

Kesan klasik semakin diperkuat dengan ornamen  kaca patri pada jendela dan pintu bergambar seorang noni Belanda. Gambar tersebut memvisualisasikan kisah penari balet bernama Putri Matahari yang sedang menari. Konon, putri matahari ini adalah seorang penari balet terkenal, yang menikah dengan serdadu Belanda. Lalu ada juga visual bangsawan Eropa yang sedang menikmati sajian pertunjukan yang terpampang pada kaca dinding gedung.

Pada tahun 1999 gedung ini pernah dijadikan cafe tempat kunjungan para importer asing yang datang ke Semarang. Gedung yang dulunya tempat pertunjukan seni disulap menjadi sebuah cafe yang ramai dan terkenal kala itu.

Arsitekturnya yang bernuansa klasik Eropa, menjadi daya tarik bagi gedung ini. Keklasikan Gedung Marabunta terlihat pada tiap-tiap sudut bangunnnya. 

 

 

 

Add comment


Security code
Refresh