CARI ARTIKEL

Link

fb tw yt fr

Pilih Bahasa :

>>

Nostalgia Eklektisme Dalam Arsitektur

Gaya eklektik dalam arsitektur sudah dikenal sejak lama, misalnya pada jaman Renaissance. Dimana elemen-elemen Romawi, (seperti kolom dan ornamennya) digabung dan ditambah dengan unsur-unsur bentuk baru. Demikian juga arsitektur Romawi telah mengambil unsur-unsur Yunani, digabung dan dikembangkan menjadi bentuk baru.

Dari segi sejarah dan ciri-ciri pengulangan  bentuk-bentuk lama, eklektisme dalam arsitektur sering disebut sebagai post renaissance, neo klasik, kolonial. Pada masa itu dapat dikatakan belum terlalu banyak pilihan dan pencampuran masih terbatas, terikat pada kaidah-kaidah klasik. Arsitektur Eklektisme, abad XIX, mengandung rasa sentimen dan nostalgia pada keindahan gaya masa lampau.

Eklektisme tidak selalu menggabungkan tetapi kadang-kadang hanya menerapkan salah satu gaya saja, tetapi dalam bentuk sistem konstruksi, fungsi, dan sisi konseptual, berbeda dari sistem klasik asli. Eklektisme menandai perkembangan arsitektur abad XIX dengan ketidakpastian gaya percampuran bentuk menghasilkan gaya tersendiri, memperlihatkan adanya pola pikir akademik, tetapi dalam bentuk konservatif

Desain eklektik kini dapat dimaknai sebagai penggabungan dari gaya modern dengan ciri khas tradisional. Di Indonesia, gaya ini banyak digemari karena Indonesia memiliki kekayaan budaya, seni dan tradisi, bisa dipadukan. Untuk menerapkan desain eklektik, Anda bisa memakai kembali barang-barang warisan dari nenek-kakek Anda. Seperti gebyog dari Jawa Tengah, dipan kayu dari Jepara dengan bantal bersulam atau bordir, lalu memakai ulos sebagai pajangan dinding, kusen atau jati tua, atau lantai teraso.

 

Add comment


Security code
Refresh